Citilink; Maskapai Penerbangan Merek Asli Indonesia

Siapa bilang Indonesia tidak memiliki Low Cost Carrier (LCC) berkualitas?ternyata ada loh, yakni Citilink Indonesia.

Beberapa waktu yang lalu manajemen kantor tempat saya bekerja memutuskan menggunakan maskapai penerbangan Citilink ketika dinas keluar kota menggantikan maskapai Garuda Indonesia yang kerap digunakan. Bukan karena Garuda Indonesia buruk namun karena efisiensi budget. Oleh karenanya, saya jadi berkesempatan menggunakan maskapai Citilink.

Citilink sendiri merupakan LCC besutan dari Garuda Indonesia. Memiliki 26 armada dengan andalan pesawat tipe Airbus A320-200 dan melayani sebanyak 24 destinasi (referensi data diambil dari wikipedia), serta memberikan janji “selalu tiba tepat waktu” Citilink yang didirikan pada tahun 2001 terus berbenah dan siap bersaing dengan maskapai lain sejenisnya.

Nah untuk urusan janji yang ditawarkan, saya telah membuktikannya dan sejauh ini baru sekali terlambat. Itu pun sebenarnya bukan karena masalah teknis sebagai alasan yang kerap diberikan oleh maskapai pada umumnya namun karena latihan terbang, entah apakah alasan tersebut di ijinkan apa tidak tapi buat saya sebagai penumpang masih menerima alasan ini tanpa bersunggut-sunggut.

Untuk kenyamanan, Citilink menawarkan ukuran kursi lebih lebar dan jarak antar kursi lebih dalam dibandingkan dengan maskapai LCC kompetitor merek dari negara tetangga. Saat ini, harga tiket sudah termasuk bagasi dengan berat 15kg. Jika Anda butuh bagasi lebih dapat membeli tambahan bagasi.

Walaupun saya belum sering menggunakan maskapai ini, namun dapat dikatakan pengalaman menggunakan Citilink sejauh ini bisa dikategorikan puas hingga saya mau menuliskannya di media ini dan sharing ke Anda semua.

Jadi mari kita besarkan merek dalam negeri dengan memilih maskapai Citilink sebagai alternative LCC anda untuk rute domestik. Jika bukan kita sebagai warga negara Indonesia, maka siapa lagi? (:

Sampai jumpa di atas awan menggunakan Citilink, Your Right Link!

*edisi #Indonesiahebat dan bangga jadi WNI*

Image diambil dari website citilink indonesia

IMG_4236-0.JPG

IMG_4237-0.JPG

Advertisements

Bandara Udara Halim Perdana Kusuma

“Penerbangan-nya nanti berangkat dari Bandara Halim ya” begitu kata rekan saya sambil menyerahkan tiket pesawat. Dengan cepat saya anggukkan kepala menerima tiket tersebut dan berkata dalam hati, “wah, bandara Halim kayak bagaimana ya? Pasti berantakkan dan tidak teratur deh.”

Hari keberangkatan tiba, Saya memutuskan tiba lebih awal bandara Halim karena selain menghindari kemacetan di jalan, pun mengantisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan maklum ini kali pertama berangkat dari Halim jadi saya tidak memiliki bayangan pelayanan di bandara tersebut.

Setibanya-nya di bandara Halim, saya takjub karena bandara ini tertata rapi. Proses check-in dilalui tanpa hambatan yang berarti walaupun fasilitas dalam bandara belum selengkap di Bandara Soekarno Hatta namun untuk layanan dalam bandara ini tidak buruk seperti dalam bayangan saya.

Seperti yang sudah diketahui, banyaknya maskapai penerbangan dengan kota tujuan dari dan menuju Jakarta membuat Bandara Soekarno Hatta dianggap sudah tidak memadai lagi menampung penumpang dan pesawat yang parkir, maka PT Angkasa Pura memutuskan menggunakan bandara Halim sebagai alternatif terminal. Baru ada 3 maskapai komersial yang menggunakan fasilitas terminal ini, yakni: Citilink, Susi Air dan Pelita Air, itupun hanya untuk rute domestik dari dan menuju pulau Jawa saja.

Lokasi Bandara Halim Perdana Kusuma berada diperbatasan kota Bekasi dan Jakarta dan dapat dikatakan cukup dekat dengan pusat kota Jakarta. Bandara ini milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AU) dan masih aktif digunakan. Selain AU, 3 maskapai diatas, Bandara ini kerap digunakan untuk keberangkatan dan kedatangan pesawat RI, tamu kenegaraan serta jet pribadi.

Mari kita lanjutkan pengalaman cerita saya setelah proses check in di Bandara ini.

“Di dalam apakah ada gerai counter makanan, Pak?” tanya saya pada petugas.

“Ada tapi tidak sebanyak di area luar” jawab Bapak petugas.

Bertekad untuk melihat keadaan di area ruang tunggu, saya memutuskan untuk masuk jikapun tidak memadai masih dapat keluar begitu hati saya berkata. Tersentak saya melihat ada counter gerai kopi ternama didalamnya. Tidak menunggu waktu lama, pada saat gerai tersebut buka mungkin saya pelanggan pertama yang melakukan pemesanan. Namun ternyata ada masalah teknis pada mesin penggiling kopi yang membuat kopi pesanan saya tak kunjung tiba. Disepakati pesanan saya dibatalkan dan uang dikembalikan karena petugas tidak yakin berapa lama dapat menyelesaikannya. Apa boleh buat saya pikir, mungkin memang belum jodoh menikmati minum kopi pagi ini.

Karena masih memiliki waktu panjang menunggu, saya memutuskan untuk keliling pandangan diruangan tersebut dan menemukan gerai toko buku terkenal disitu. Ah, Bandara ini tidak kalah juga dengan bandara kecil lainnya walaupun anak tangga yang cukup banyak dan menyulitkan jika anda membawa bagasi dalam kabin serta tidak terlalu nyaman untuk usia lanjut, sisa-nya luar biasa.

“Selamat pagi, ibu. Mohon maaf atas ketidak nyamanan pembatalan pesanannya tadi. Ini complimentary dari kami sesuai pesanan ibu.” sapa petugas team gerai kopi yang kerap disebut Barista. Wah jujur saya cukup kaget mendapatkan pelayanan ini, sudah lama saya mendengar bagaimana perusahaan gerai kopi ini memberikan training layanan pada barista-nya dalam memberikan kepuasan pelanggan. Dan sekarang saya mengalami-nya. Tersenyum dan mengucapkan terima kasih saya menerima kopi itu.

Sambil menikmati kopi dan menunggu giliran rute pesawat yang akan saya tumpangi, saya duduk menikmati aktivitas penumpang lainnya di area ruang tunggu. Mengamati kegiatan orang disekitar adalah kegiatan yang saya nikmati karena banyak cerita yang dapat saya petik hikmat-nya.

Pagi ini, pengalaman saya sungguh luar biasa di Bandara Halim Perdana Kusuma. Semoga sisa hari perjalanan dinas kantor ini akan sama menyenangkannya seperti pagi ini. Selamat beraktivitas semua (:

IMG_4184.JPG

IMG_4185.JPG

IMG_4183.JPG

Selamat Datang di Kota Medan

“sudah makan belum?”

Pertanyaan diatas kerap ditanyakan ketika pertamakali bertemu orang di Kota Medan. Harus diakui di Kota ini banyak sekali makanan enak dan bangunan kuno yang sangat cantik untuk diabadikan dikamera. Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi Kota Medan selama 2 hari. Walau hanya perjalanan singkat, tapi memiliki segudang cerita.

Saya memutuskan untuk berangkat menuju Medan menggunakan salah satu maskapai nasional Indonesia dengan waktu keberangkatan jam 8pagi dan tiba pukul 10 pagi. Hari itu ternyata pesawat yang saya tumpangi penuh, mungkin juga karena masih suasana tahun baru Imlek sehingga banyak penduduk Kota Medan yang merantau memutuskan untuk pulang kampung.

Tiba di bandara polonia, saya berniat untuk menyelesaikan urusan pekerjaan terlebih dahulu dan lansung menuju kantor cabang yang berlokasi di jalan tanjung morawa, Medan. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan jam makan siang, saya berserta team akhirnya mengalah menghentikan meeting untuk mengisi perut.

Pilihan tempat makan siang kali ini adalah Rumah Makan “Wong Rame”. Tempat makan ini tidak terlalu bagus pastinya selain itu letaknya pun dipinggir jalan tapi untuk rasa tidak kalah dengan restoran terkenal. Menu andalan disini adalah ikan gurame goreng dan nasi dicampur durian. Jangan lupa pesan minuman martabe (markisa + terong belanda). Satu hal yang saya pelajari sebelum berangkat ke Kota medan sebaiknya memang diet terlebih dahulu karena setibanya dikota ini sayang sekali jika kita tidak berwisata kuliner.

Setelah agenda meeting selesai, kami bertolak menuju pusat Kota. Tempat pertama yang kami singgahi adalah sebuah hotel yang baru saja diresmikan. Hotel tersebut adalah Grand Aston hotel dengan konsep bangunan city hall karena bangunan tersebut sebelumnya adalah bangunan kantor gubernur Medan. Salute untuk pemerintah Kota Medan yang tetap melestarikan bangunan lama dan menjualnya menjadi suatu tata Kota yang cantik dan indah. Saya yakin sekali anda pasti senang memfoto-nya di kamera anda. Bersebelahan dengan grand Aston hotel, Ada gedung bank Indonesia yang tak kalah cantiknya, sedangkan disekelilingnya ada tugu Kota medan dan kantor pos yang dibangun tahun 1818 masih berdiri kokoh dan dipergunakan.

Sekali lagi saya beruntung karena dapat menginap di Grand Aston hotel, tak perlu waktu lama untuk mencari makan karena lokasi hotel sangat strategis, anda cukup menyebrang jalan sudah terlihat Merdeka Walk, tempat pusat makanan dan berkumpul yang cukup nyaman.

Tanpa berlama-lama lagi, pilihan makan malam jatuh di restoran “Nelayan”. Konon kabarnya restoran tersebut terkenal dengan menu dim sum & pancake durian. Wah, lagi-lagi durian tapi durian memang terkenal dikota ini. Pilihan untuk makan ditempat ini tepat, sangat memanjakan lidah & perut anda.

Penduduk Kota Medan baru memulai jam makan makam sekitar jam 8 malam, ini terlihat bahwa pada jam tersebut semua tempat makan penuh bahkan yang dipinggir jalan sekalipun. Selesai makan malam, jika perut anda masih memiliki ruang tersisa maka anda dapat mencoba durian “ucok”. Namun sayang saya tidak dapat bercerita detail sebab perut saya sudah tidak bisa menampung lagi. Akhirnya, wisata kuliner hari ini saya akhiri, kembali ke hotel untuk beristirahat.

“aktivitas dipagi hari baru akan dimulai jam 8 pagi minimal sebab jam 7pagi langit masih gelap” begitu kata seorang teman di Medan. Saya membuktikan sendiri dan melihat memang tidak ada gunanya keluar sebelum jam 8 pagi karena langit masih gelap matahari belum mau mengeluarkan sinarnya. Mengingat kesibukan persiapan untuk acara nanti malam, saya memilih untuk bersarapan di hotel. Tidak usah kuatir karena menu sarapan yang dtawarkan pun sangat beragam.

Begitu banyak yang dikerjakan dihari itu hingga tidak menyadari bahwa waktu sudah melewati jam makan siang, sekali lagi saya tercengang karena penduduk Kota Medan terbiasa makan terlambat. Ada satu hal yang saya ketahui jika anda pencinta makan dengan menu daging hewan gendut berwarna merah jambu dan berkaki empat, anda tinggal menyebutkan saja bahwa anda adalah international player maka anda pasti akan diajak untuk mencicipinya 🙂

Sebut saja saya termasuk international player, segera kami melesat menuju Jl. Semarang untuk makan siang dengan menu utama pastinya Chinese food dan tidak ketinggalan daging babi sebagai andalan. Lagi-lagi restoran disebuah ruko yang dimana dipagi hari sederetan ruko disana menjual barang-barang spare parts tapi siang hari menjadi pusat makan siang dengan konsep ala warteg. Untuk kenikmatan makanan tidak perlu diragukan lagi pastinya.

Terakhir saya mengunjungi Kota medan tahun 2004, terlihat sangat jelas dalam kurun waktu 5 tahun Kota Medan berubah. Banyaknya pembangunan hotel, shopping mall dan gedung perkantoran lainnya membuktikan meningkatnya perekonomian di Kota ini. Medan menjadi Kota metropolitan yang tak kalah cantiknya dengan Kota besar lainnya di Indonesia.

Jika punya waktu senggang, mampirlah sebentar di kedai shop Tjiong A Fie. Menikmati suasana sore nan rupawan dan romatis, jangan lupa membawa serta kamera anda ya karena banyak spot cantik yang dapat anda abadikan.

Acara gathering kantor malam itu di ballroom grand Aston berlansung sangat sukses dan meriah. Tentu saja hal ini bisa terjadi karena kerjasama tim yang sangat baik. Selesai acara, kami memilih untuk berisitirahat karena besok pagi saya Akan kembali ke Jakarta menggunakan penerbangan paling pagi.

Sekali lagi seorang teman, menyarankan agar mencoba sarapan diluar hotel, dan berjanji akan menjemput saya untuk sarapan sebelum ke airport. Lagi-lagi temen saya merekomendasikan tempat sarapan yang sangat memuaskan, menu sarapan pilihannya adalah bihun bebek Kumango yang berlokasi di jalan kumango. Ah, perut saya bener2x termanjakan dalam perjalanan ke Medan kali ini.

Kini tiba saatnya saya kembali ke Jakarta. Sampai jumpa Medan, semoga saya ada kesempatan lagi untuk mengunjungi dan berwisata kuliner kembali!

-tulisan ini saya buat ketika berkunjung ke kota Medan tahun 2009 atau 2011 ya, lupa Tulisannya baru saya temukan diantara tumpukan notes pekerjaan hehehehhe-

IMG_4299.JPG

IMG_4298.JPG

IMG_4302.JPG

IMG_4297.JPG

IMG_4300.JPG

IMG_4303.JPG

IMG_4304.JPG

IMG_4301.JPG